PENETAPAN KADAR KOLESTEROL

Posted: December 16, 2015 in laporan, Uncategorized
  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan                  : Menentukan kadar kolesterol total dalam serum rendah dan serum

tinggi.

  1. LANDASAN TEORI

Kolesterol merupakan steroid hewani yang terdapat paling meluas dan dan dijumpai dalam hampir semua jaringan hewan. Batu kandung empedu dan kuning telur merupakan sumber yang kaya akan senyawa ini. Kolesterol merupakan zat antara yang diperlukan dalam biosintesis hormon steroid. Kolesterol dapat disintesis dari asetil koenzim A. kadar kolesterol yang tinggi dalam darah dikaitkan dengan arteriesklerosis (pengerasan pembuluh darah) yaitu suatu keadaan dimana kolesterol dan lipid-lipid lain melapisi dinding dalam pembuluh darah (Fessenden, 2007: 425).

  1. Gambar Kolesterol

 

Karena tidak larut dalam darah, maka kolesterol ditransportasikan dalam sistem sirkulasi lipoprotein. Ada beberapa jenis lipoprotein di dalam darah dari ukuran besar hingga yang berukuran paling kecil: chylomicrons, very low density lipoprotein (VLDL), intermediate density lipoprotein (IDL), low density lipoprotein (LDL), dan high density lipoprotein (HDL) (Sudarma, 2009: 85).

Sedikitnya lebih dari separuh jumlah kolesterol dalam tubuh berasal dari sintesis (sekitar 700 mg/hari), dan sisanya berasal dari makanan sehari-hari. Pada manusia, hati menghasilkan kurang lebih 10% dari total sintesis, sementara usus sekitar 10% lainnya. Pada hakekatnya semua jaringan yang mengandung sel-sel berinti mampu mensintesis kolesterol. Fraksi mikrosomal (reticulum endoplasma) dan sitosol sel terutama bertanggung jawab atas sintesis kolesterol. Biosintesis kolesterol dapat dibagi menjadi 5 tahap yaitu, (1) Mevalonat yang merupakan senyawa enam karbon disintesis dari asetil KoA, (2) Unit isoprenoid dibentuk dari mevalonat dengan menghilangkan CO­2, (3) Enam unit isoprenoid mengadakan kondensasi untuk membentuk intermediet, skualen, (4) Skualen mengalami siklisasi untuk menghasilkan senyawa steroid induk, yaitu lanosterol, (5) Kolesterol dibentuk dari lanosterol setelah melewati beberapa tahap lebih lanjut, termasuk menghilangnya tiga gugus metil (Murai, dkk, 2003).

Adanya kolestesterol dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi warna. Salah satu diantaranya ialah reaksi salkowski. Apabila kolesterol dilarutkan dalam kloroform dan larutan ini dituangkan di atas larutan asam sulfat pekat dengan hati-hati, maka bagian asam berwarna kekuningan dengan fluoresensi hijau bila dikenai cahaya. Bagian kloroform akan berwarna biru yang berubah menjadi merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam kloroform bila ditambahkan anhidrida asam asetat dan asam sulfat pekat, maka larutan tersebut yang mula-mula akan berwarna merah kemudian menjadi biru dan hijau. Ini disebut reaksi Lieberman Burchard. Warna hijau yang terjadi ternyata sebanding dengan konsentrasi kolesterol. Karenanya reaksi Lieberman Burchard dapat digunakan untuk menentukan kolesterol secara kuantitatif. Dalam darah manusia normal terdapat antara 150-200 miligram tiap 100 ml darah (Poedjadi, 2007: 75-76).

Kolesterol dapat mengalami autooksidasi dan fotooksidasi. Kedua proses ini akan meningkatkan oksisterol dengan berbagai sruktur tergantung dari tipe oksidasi fisik substrat. Dengan demikian identifikasi produk oksidasi kolesterol dapat digunakan sebagai bukti mekanisme oksidasi pada berbagai system. Ketika kolesterol ester teroksidasi, struktur dan banyaknya oksisterol tergantung dari jenis asam lemaknya (Raharjo,2006:64).

Kolesterol berfungsi membentuk dinding sel (membran sel) dalam tubuh.
Selain itu ia juga berperan penting dalam produksi hormon seks, vitamin D, serta untuk fungsi otak dan saraf. Manusia rata-rata membutuhkan 1.100 miligram kolesterol per hari untuk memelihara dinding sel dan fungsi fisiologis lain. Kolesterol yang terdapat dalam tubuh manusia berasal dari dua sumber utama yaitu dari makanan yang dikonsumsi dan dari pembentukan oleh hati. Kolesterol yang berasal dari makanan terutama terdapat pada daging, unggas, ikan, dan produk olahan susu. Jeroan daging seperti hati sangat tinggi kandungan kolesterolnya, sedangkan makanan yang berasal dari tumbuhan justru tidak mengandung kolesterol sama sekali (Akang, 2009).

 

  1. ALAT DAN BAHAN
  • Alat Praktikum
  • Penangas air
  • Pipet volum
  • Rak tabung reaksi
  • Tabung reaksi
  • Alat sentrifugasi
  • Penjepit
  • Spektrofotometer UV – Vis
  • Raber Bulb
  • Pipet tetes
  • Bahan praktikum
  • Serum kolesterol tinggi
  • Serum kolesterol rendah
  • Alcohol absolute
  • Petroleum benzin
  • Aquadest
  • Colour reagent (1,0 mgr FeCl3.6H2O/ml asam asetat glacial)
  • Asam sulfat pekat

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. SKEMA KERJA
  2. Uji Sampel

2,5 ml alcohol absolute

Dimasukkan dalam tabung reaksi tertutup

(tabung S)

+ 0,1 ml serum kolesterol rendah

Dikocok

Hasil

+ 5 ml petroleum benzin

Tabung ditutup

Dicampur ( ± 30 detik)

Hasil

+ 3 ml aquadest

Dikocok 10-15 menit

Didiamkan

Terbentuk 2 lapisan

Diambil lapisan atas

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi lain                                                                        Hasil

Dimasukkan dlm penangas (T= ± 80 oC)

Cairan tinggal sedikit

Dibiarkan mengering di udara terbuka

Hasil

+ 4 ml colour reagent

Tabung reaksi                                                     Δ penangas air beberapa menit

+ 4ml CH3COOH glasial                       Didinginkan pada T kamar

Blanko                                                    Sampel

 

 

+ 3 ml H2SO4 pekat

2 lapisan

Dikocok

Didiamkan dalam ruang gelap ± 30 menit

Diukur A dan %T pada λ = 560 nm

Hasil

Dilakukan hal yang sama untuk kolesterol tinggi

Hasil

 

  1. Kurva Kalibrasi

 

Larutan kolesterol standar 0,05 mg/ml petroleum eter

 

 

0,5 ml larutan                                      1 ml larutan                                         2 ml larutan

 

 

Diuapkan (penangas air, T = 80 oC)

Larutan tersisa sedikit

Diuapkan dalam temperatur kamar

Hasil

+ 4 ml colour reagent

Δ penangas air beberapa menit

Didinginkan pada T kamar

+ 3 ml H2SO4 pekat

2 lapisan

Dikocok

Didiamkan dalam ruang gelap ± 30 menit

Diukur A dan %T pada λ = 560 nm

Hasil

 

  1. HASIL PENGAMATAN
PERLAKUAN RENDAH TINGGI
·       Serum + Alkohol

 

 

 

·       Ditambahkan petroleum benzen.

 

 

 

 

 

·       Mixer30 skon

 

 

 

 

 

 

 

·       + aquades kemudian dikocok, dan didiamkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

·       + H2SO4

·    Terdapat gumpalan putih (endapan) koloid.

 

 

·    Larutan berwarna bening (gumpalan/endapan dibawah dan ada yang melayang terdapat 2 fase, bening cair diatas, dibawah keruh dan terdapat gumpalan).

·    Terbentuk 2 fase, pada bagian atas bening seperti minyak berwarna bening kental dan terdapat endapan putih didasar tabung.

 

 

·    Endapan naik keatas diantara dua larutan. Endapan difase atas yang lebih jernih.setelah dikocok terbentuk 2 lapisan. Bagian atas bening, dan lapisan bawah (kental dan lebih keruh. Terdapat cincin putih diantara 2 fase tersebut).

·    Terbentuk 3 fase. Warna pada lapisan atas kuning bening, lapisan tengah berwarna coklat (lebih banyak), dan lapisan bawah bening.

·    Pengukuran dengan spektrofotometer UV-VIS dengan λ = 560, didapatkan A = 0,478

·    Terdapat endapan putih (endapan) koloid. Gumpalannya lebih keruh.

·    2 fase, gumpalan terdapat dibawah, fase bawah keruh dan fase atas bening (gumpalan lebih banyak dari yang kolesterol rendah.

 

·    Terbentuk 2 fase. Pada bagian atas bening, pada bagian bawah seperti minyak berwarna bening kental (agak keruh), terdapat endapan putih di dasar tabung.

·    Terdapat 2 laposan. Lapisan atas bening cair dan lapisan bawah keruh.

 

 

 

 

 

 

 

·    Terbentuk 3 lapisan, lapisan atas berwarna kuning bening, lapisan tengan berwarna coklat (sedikit) dan bagian bawah bening.

 

·    Pengukuran dengan spektrofotometer UV-VIS dengan λ = 560, didapatkan A = 0,133

ANALISA DATA

  1. Perhitungan

Kolesterol volume 0.5 mL

Kadar kolesterol standar = 1.25 mg

Massa = V x kadar

= 0.5 mLx 0.05 mg/mL

= 0.025 mg

Kolesterol volume 1 mL

Kadar kolesterol standar = 0.05 mg/mL

Massa = V x kadar

= 1.0 mLx 0.05 mg/mL

= 0.05 mg

Kolesterol volume 2 mL

Kadar kolesterol standar = 0.05 mg/mL

Massa = V x kadar

= 2.0 mLx 0.05 mg/mL petroleum eter

= 0,1 mg

  1. Pembuatan kurva kalibrasi dengan panjang gelombang 560 nm
TABUNG Massa Absorban
Blanko

Sampel kolesterol rendah

Sampel kolesterol tinggi

0.025

0.05

0.1

0,139

0,346

1,650

 

 

Kurva kalibrasi

Berdasarkan kurva didapatkan persamaan Y = 13,728x + 0,032

  1. Penentuan Kadar Kolestrol Dalam Serum Darah
  2. Kadar Kolesterol Dalam Serum Tinggi

A larutan serum tinggi = 0,133 = Y

Y = 13,728x + 0,032

0.133 = 13,728x + 0,032

0,133 – 0,032 = 13,728x

X = 0,00736

Jadi kadar kolesterol dalam serum tinggi = 0.00736 mg/0.1 mL = 0,0736 mg/dL

Sehingga kadar kolesterol tersebut tergolong rendah.

 

  • Kadar Kolesterol Dalam Serum Rendah

A larutan serum tinggi = 0.478 = Y

Y = 13,728x + 0,032

0.478 = 13,728x + 0,032

X   = 0,0325

Jadi kadar kolesterol dalam serum tinggi = 0.0325 mg/0.1 mL = 0,325 mg/dL

Sehingga kadar kolesterol tersebut tergolong rendah

 

  1. PEMBAHASAN

Kolesterol merupakan salah satu sterol yang penting yang terdapat dalam jaringan dan lipoprotein plasma. Biasanya terdapat dalam bentuk kolesterol bebas atau gabungan dengan asam lemak rantai panjang seperti ester kolesteril. Kolesterol tidak larut dalam air karena adanya perbedaan kepolaran (Anonim, 2012). Akan tetapi kolesterol larut dalam pelarut organik dan sangat nonpolar seperti petroleum eter. Dimana komposisi dari pelarut ini adalah propana, heptana, dan n-heksana.

Kolesterol merupakan suatu sterol jenis lemak normal di dalam darah yang dibutuhkan tubuh untuk sintesis berbagai macam hormone steroid (Ardianto dkk., 2010). Dalam konsentrasi tinggi, kolesterol akan mengkristal dalam bentuk Kristal tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau, dan memiliki titik lebur sekitar 0 sampai 151 0C. jika kolesterol terdapat pada pembuluh darah maka akan terjadi penyempitan pembuluh darah karena kolesterol akan mennyebabkan terjadinya penebalan pada dinding pembuluh darah sehingga kelembutan dan kelenturan pembuluh darah akan berkurang. Hal tersebut menyebabkan terjadinya gangguan pada aliran darah sehingga jantung harus memompa darah lebih keras lagi untuk menstabilkan aliran darah sehingga menimbulkan resiko penyakit jantung (Poedjadi, 2007).

Untuk mendapatkan kolesterol murni dari serum rendah maupun tinggi maka dilakukan pemisahan yang menggunakan prinsip seperti ekstraksi pelarut. Alkohol absolute atau yang lebih dikenal dengan etanol dicampurkan dengan serum untuk melarutkan senyawa-senyawa lain selain kolesterol karena kolesterol tidak larut dalam pelarut ini. Penambahan petroleum benzin ini berfungsi sebagai pelarut bagi kolesterol. Setelah diaduk terlihat seperti ada 2 fase, kemudian ditambahkan air agar pemisahannya lebih jelas sehingga akan terbentuk 2 fase dengan fase air dibagian bawah. Etanol ini sendiri merupakan pelarut yang juga dapat larut dalam air (Anonim, 2012). Larutan yang bening dibagian atas diambil kemudian pelarutnya diuapkan dalam penangas air sehingga didapatkan kolesterol murni untuk selanjutnya dilakukan uji kadar totalnya.

Pengujian kuantitatif kadar kolesterol total ini dilakukan dengan teknik Lieberman Burchard, yaitu pembentukan kompleks warna tertentu dengan beberapa reagen yang menyerap cahaya pada panjang gelombang UV-Vis, sehingga dengan mengetahui nilai absorbansi dari suatu sampel pada suatu panjang gelobang tertentu, maka akan dapat di tentukan kadar kolesterolnya. Dimana dalam praktikum ini yang digunakan adalah colour reagent yang berupa FeCl3.6H2O dalam asam asetat glasial yang akan membentuk komplek biru hijau dengan hidrokarbon, Dimana warna hijau yang terjadi sebanding dengan kadar kolesterol. Sedangkan penambahan asam sulfat pekat berfung si sebagai katalis untuk mempercepat oksidasi sehingga kompleks warnyanya lebih cepat terbentuk. Larutan ini setelah didiamkan dalam ruang gelap ternyata tidak mengalami perubahan warna. Larutan didiamkan ditempat gelap agar tidak ada penyerapan cahaya oleh kolesterol sebelum kolesterol diukur dengan UV-VIS karena hal ini tentunya dapat mempengaruhi serapan cahaya pada saat pengukuran sehingga turut mempengaruhi hasil pengukuran (Murray, 2003). Untuk menentukan kadar kolesterol sebelumnya dibuat terlebih dahulu kurva kalibrasi larutan kolesterol standar 0,05 mg/mL petroleum eter dan ditentukan persamaan garisnya. Kadar kolesterol total didapat dengan memasukkan nilai absorbans yang didapat dari hasil pengukuran ke dalam persamaan yang didapat. Sehingga dari hasil perhitungan diperoleh kadar kolesterol rendah sebesar 0,325 mg/dL darah dan kadar kolesterol tinggi sebesar 0,0736 mg/dL darah dengan persamaan grafikY = 13,728x + 0,032. Hasil yang didapat kemudian dibandingkan dengan standar kadar kolesterol dalam darah dan didapat kadar serum  rendah maupun kadar serum tinggi yang masih dalam batas yang sangat rendah karena biasanya rentang normal kolesterol sekitar 150-200 mg/100 ml darah (Poedjiadi, 2007).

 

  1. KESIMPULAN

Penentuan kadar kolesterol total dapat dilakukan dengan teknik Lieberman Burchard dimana kadar kolesterol dapat dihitung berdasarkan nilai absorbans yang didapat.Pemisahan kolesterol dari serum untuk mendapatkan kolesterol murni menggunakan prinsip ekstraksi pelarut yaitu kolesterol larut dalam petroleum eter sedang senyawa-senyawa lainnya larut dalam etanol. Dimana etanol dapat larut dalam air sehingga kolesterol dapat dipisahkan.Kadar kolesterol total untuk kolesterol rendah sebesar 0,325 mg/dL darah sedangkan kadar kolesterol total untuk kolesterol tinggi sebesar 0,0736 darah.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ardianto dkk,. 2010. Laporan Resmi Analisis Klinik Penetapan Kadar Kolesterol Total dengan Metode Enzimatik. Golongan I: FKK 2008.

Akang. 2009. Si Baik dan Si Jahat Itu Bernama Kolesterol. http://aa-kolesterol.blogspot.com/2009/12/si-jahat-dan-si-baik-itu-bernama_06.html [02 Mei 2012].

Anonim1. 2012. Apa Arti Hasil Test Kolesterol Darah Anda. http://www.mangkukmerah.com/ [17 mei 2012].

Fessenden, Ralp J. dan Joan S. Fessenden. 2009. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Murray, Robert K. 2003. Biokimia Harper. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Poedjadi, Anna dan F. M. Supriyanti. 2007. Dasar-Dasar biokimia. Jakarta: UI Press.

Sudarma, I Made. 2009. Kimia Bahan Alam. Mataram: FMIPA Press.

Comments
  1. NK says:

    Thanks share ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s